“Dasar sialan, bukan manusia,
setan kamu setan!”
Aku terbangun kaget dari mimpi buruk yang menghampiri tidurku yang bisa dibilang kurang dari kebutuhan tidur manusia pada umumnya. Sakit. Kepalaku sakit saat mulai mengingatnya. Andai saja mantra obliviette yang biasa digunakan Harry Potter dan kawan-kawannya untuk menghapus memori dapat kugunakan didunia nyata ini, mungkin ingatanku terhadap masalah ini dapat terlupakan.
Aku memalingkan wajahku keluar jendela, kulihat mentari mulai keluar dari tempat persembunyiannya, dan aku kembali larut dalam lamunan. Ingatan akan peristiwa itu kembali. Peristiwa kemarin yyang menimpa keluarga kecilku yang terdiri dari Ayah, Ibu dan aku. Tetes air mata mulai berjatuhan seiring otak ku mengingat peristiwa itu.
***
Siang itu, aku layaknya remaja tujuh belas tahun lainnya sibuk dengan gadget bewarna putih yang besarnya segenggaman tanganku. Seperti yang biasa dilakukan oleh kebanyakan remaja lainnya, aku bercengkrama dengan teman-temanku di dunia maya, tiba-tiba Ibu datang kepadaku dan menyuruhku menggantikannya didapur untuk menunggui masakannya. Ibu bilang Ia harus menelepon temannya, maka aku berikan gadget putih kecilku itu kepada Ibu, karena memang hari itu dari tiga gadget yang ada dirumah hanya punyaku yang memiliku pulsa, dan aku beranjak kedapur.
Aku sibuk mengaduk masakan Ibu, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, Ayah datang! Batinku. Akupun berlari membukakan pintu untuk Ayah. Kulihat wajah Ayah, tersenyum padanya, dan mencium tangannya. Namun saat aku melakukan kebiasaanku itu aku merasa janggal, karena Ayah tidak membalas senyumanku. Entahlah mungkin beliau sedang lelah dan aku enggan mengganggunya karena takut memperburuk suasana. Aku kembali ke masakan Ibu yang dititipkannya kepadaku.
***
“Nemita, kemari kamu!” Ibu memanggilku dengan nada tinggi yang membuatku langsung digap menghadap wanita yang telah mengandungku selama sembilan bulan itu. Mukanya telah berubah menjadi tidak enak, bisa jadi ini suatu pertanda bahwa aku akan dimarahi. Benar saja baru aku selesai bergumam dalam hati, Ibu mulai mengeluarkan kekecewaannya padaku.
“Siapa yang mengajarimu menggunakan kata-kata kasar?” Ibu memulai interogasinya, aku hanya bisa diam. Mulutku bungkam. Aku mengetahui penyebab Ibu marah. Pasti karena Ibu telah melihat obrolanku dan teman-temanku di media sosial, dan ya memang benar aku sempat berkata-kata kasar kepada temanku.
“Jawab Ibu Nemi! Dari mana kau dapat kata-kata kasar seperti itu?” Ibu melanjutkan kekecewaannya padaku dan aku tertunduk, dan aku masih saja diam.
“Kamu tahu Nemi? Orang yang berkata-kata kasar itu seperti orang yang tidak bersekolah. Itu tidak sopan Nemi, coba kau pikirkan jika temanmu terluka hanya karena perkataanmu tadi?” Kepalaku yang tadinya tertunduk sekarang rasanya sudah terpendam didalam tanah. Aku merasa bersalah sekaligus malu pada ibu.
“Ibu tidak suka kamu seperti itu, dan ibu tidak ingin melihatmu berkata-kata seperti itu lagi.” Ibu mengakhiri kekecawaannya, dan sekali lagi aku terdiam dan hanya mengangguk. Hatiku bergumam, “Maaf ibu.. Maaf.. Lagi-lagi aku mengecewakanmu.” Aku berjuang menahan air mataku yang memaksa keluar. Kemudian Aku mulai melangkahkan kakiku dari ruang tamu menuju kamarku, menuju laptop kesayanganku, menyalakannya dan memberi perintah untuk memutar lagu Yui- To Mother.
Hatiku mulai tenang setelah mendengar beberapa lagu dari laptopku. Namun aku mendengar sayup-sayup suara orang bertengkar dari kamar orang tuaku. Aku yang penasaran keluar dari kamar dan bergegas turun dari lantai dua menuju kamar orang tuaku di bawah. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara saat sudah tiba dibawah. Walaupun pintu kamar Ayah dan Ibu tidak tertutup, tetapi aku berani menjamin kalau mereka tidak menyadari kehadiranku disini. Aku tidak langsung masuk kedalam kamar, aku mengintip dari balik dinding terlebih dahulu dan menyaksikan, dan mendengar sebuah adegan yang benar-benar membuat tanggul pertahanan air mataku jebol, sehingga air mataku dengan derasnya keluar membanjiri pipiku layaknya air terjun.
Aku tidak berani menampakan diriku, hingga aku melihat Ayah melempar sesuatu dari atas meja, bukan kearah Ibuku tentunya, hanya membantingnya kelantai, dan syukurnya hanya sebuah kotak tisu. Aku sudah tidak tahan menangis tanpa suara, akhirnya aku menampakan diriku dan menangis sejadi-jadinya. Ayah masih saja melontarkan kata-kata kasar pada Ibu, dan Aku berani menjamin Ibuku sangat terluka oleh kata-kata itu.
Namun, tahukah dirimu teman apa yang ternyata Ibu lakukan? Ibu justru beranjak ketempatku mematung sambil menangis dan memeluk ku, Ia lebih memilih menenangkan diriku dan meninggalkan Ayah yang masih mengatur nafasnya setelah berteriak-teriak. Aku segera melepas pelukan Ibu dan berlari menuju kamarku di atas. Aku mengunci diriku dan duduk diantara rak-rak buku yang berisi novel-novel tebal yang menyaksikanku menangis meraung-raung marah, entah marah pada siapa, yang jelas hatiku sakit.
Aku sakit hati pada orang dewasa, dan aku tidak habis pikir pada mereka. Semudah itukah mereka mengeluarkan kata-kata kasar ketika sedang emosi? Semudah itukah mereka menyakiti orang lain? Sedang disisi lain mereka melarang anak-anak mereka mengeluarkan kata-kata seperti itu. Pahamkah mereka akan makna Kaburo maktan? Sungguh aku tidak mengerti pola pikir mereka.
Hingga sekarang pukul sebelas malam, air mataku belum berhenti sempurna. Sebenarnya sejak tadi siang aku mendengar puluhan kali Ibu dan Ayah mengetuk pintu kamarku, tetapi aku abaikan mereka. Namun, akhirnya aku luluh sekarang. Aku mendengar ibu mengetuk pintu kamarku sekali lagi, aku membentuk tanggul air mataku sehingga air mataku bisa dihentikan untuk sementara waktu. Aku membuka pintu kamarku, keluar dan langsung memeluk ibu, tetapi nampaknya tanggul pertahanan air mataku jebol lagi ketika dipeluk ibu. Ibu menenangkakanku kembali entah untuk keberapa kalinya dan mengajakku makan malam di meja makan. Aku sempat melirik ke kamar ayah. Beliau melihat kearahku juga sambil tersenyum, tetap[I maaf ayah, aku tidak bisa membalas senyummu malam ini, karena hatiku masih terlalu sakit karena mendengar perkataamu tadi siang. Namun aku tahu, pasti hati ibu lebih sakit.
Setelah selesai makaan dan mencuci piringnya, ibu menawari segelas susu, tetapi aku menolaknya. Aku lebih memilih kembali ke kamar mengurung diri disana.
Aku membenamkan kepalaku di bawah bantal, pikiranku kembali berkecamuk. Aku berpikir, seharusnya aku tidak boleh menyalahkan ayah sepenuhnya, karena mungkin kondisi ayah yang sudah lelah setelah bekerja keras seharian. Di samping itu, aku tahu yang memulai pertengkaran pasti ibu. Karena jika ayah ya ng memulainya tidak akan seheboh ini. Namun, aku tidak suka cara ayah berkata kasar pada ibu, sedangkan kedua orangtuaku tidak mau diriku berkata kasar.
Lelah, pikiranku lelah. Mataku mulai panas karena terlalu sering dilewati oleh air mata. Perlahan mataku terpejam. Hatiku bergumam untuk yang terakhir kalinya malam ini. Sungguh kalau menjadi orang dewasa kita lebih mudah menyakiti orang lain, bahkan menyakiti orang yang disayangi, rasanya aku benar-benar tidak ingin menjadi orang dewasa. Karena aku hanya tidak ingin menyakiti dan mengecawakan orang yang aku sayangi.

No comments:
Post a Comment