Tuesday, June 23, 2015

#AkubersyukursekolahdiAlKahfi

Alhamdulillah kawan, aku lulus dari Al Kahfi pas banget di post yang ke 100. Kalo gitu sekarang aku cerita tentang kenapa aku bersyukur sekolah di Al Kahfi aja yaa!!

#AkubersyukursekolahdiAlKahfi, karena aku belajar untuk terbuka dengan teman. Walaupun aku kenal semua anak perempuan, aku gak bisa terbuka ke semuanya, tapi setidaknya aku punya teman untuk berbagi beban hidup. Semenjak aku masuk Al Kahfi, aku nggak setertutup dulu waktu SMP, sampe dulu temen-temen aku hanya tau kalo dulu aku orangnya selalu riang gembira, mereka gapernah tau kapan aku marah, kapan aku capek, kapan aku sensitif, kapan aku cemburu, karena hampir semua aku sembunyikan sendiri dengan rapih. Aku sembunyikan semuanya dengan topeng senyum ceria yang setiap harinya aku poles agar mereka tidak tahu apa yang aku rasakan. Alhamdulillah aku bukan pendendam berkelanjutan, dan aku nggak pernah bisa marah sama orang-orang yang aku sayang, jadi tenang kawan. Aku selalu menyayangi mereka dua belas ranger kesayanganku.

Namun, setelah aku masuk ke sebuah penjara suci seribu tangga, ternyata sulit untuk menerapkan cara yang sama. Mungkin salah satu penyebabnya ujian hidup di Alkahfi lebih berat dan ditambah orang tua nggak selalu bisa hadir disisiku. Aku mulai merubah pola pikir, Aku mulai terbuka kepada salah seorang gadis cantik nan baik bernama Yasmin. Yang sekarang menjadi salah satu teman baik kesayangan ku. Dia tau segalanya tentang aku, dari yang baik sampe yang busuk. Dia salah satu orang yang mengharapkan Aku diwisuda kemarin setelah Bapak dan Mamaku. Dia selalu nyemangatin aku kalo lagi futur, selalu siap sedia kalo tiba-tiba gue dateng kekamarnya terus nangis, selalu selalu selalu banyak lagi. Aku merasa gue belum bisa sebaik dia, haha. Terimakasih, Yas! 😂

Namanya Yasmin, dia sedang menunggu Aladinnya yang orang bogor itu, haha.
Masih tentang sosialisasi, #AkubersyukursekolahdiAlKahfi karena aku jadi OSPETA. Belajar mengemban amanah, belajar berani sama orang. Setelah jadi OSPETA, aku jadi lebih bisa bergaul dengan teman-teman seangkatan yang eksis, atau ya biasa kami sebut dengan pentolan. Karena, waktu kelas sepuluh untuk bertegur sapa dengan mereka saja bahkan butuh keberanian lebih dibanding untuk menghadap OSPETA buat tahkim bahasa. Setelah jadi OSPETA aku juga lebih bisa bersosialisasi dengan adik kelas walau kenyataannya aku memang membenci mereka, haha. Dari OSPETA ini juga akhirnya aku kenal satu dari 91 anak laki-laki, padahal dulu waktu kelas sepuluh aku dengan lantang bilang kalau aku tidak akan kenal sama satupun cowo Al Kahfi, haha. Kalau nggak karena majalah waktu itu, fix banget omonganku waktu itu jadi kenyataan, haha.

Yang ketiga #AkubersyukursekolahdiAlKahfi karena aku punya guru-guru yang hebat. Seperti pak Ade kepala sekolah kami yang kadang kalau memberi semangat bikin hati tuh berasa ditusuk. Pak Ade juga guru biologi yang bikin aku sadar kalau ternyata Indonesia ini kaya raya dengan keanekaragaman hayati.

Ada Bu Ika dan bu Hijri juga, masih sebagai guru biologi yang bikin aku sadar betapa Allah tuh Maha Kuasa banget, menciptakan kami para manusia yang bisa dibilang kurang bersyukur dengan sebaik-baiknya. Dengan segitu kompleksnya tubuh kita yang dengan berjuta juta sel yang mampu mengerjakan proses metabolisme setiap waktunya. Bu Ika sama Bu Hijri juga rela mengorbankan waktunya buat Naila, Dinda, sama aku belajar sampe sore setiap hari buat lomba BESC sama PSN waktu itu. Makasih banyak ya bu! Kami sayang Ibu.

Kenang-kenangan waktu ke surabaya, lomba paling nyesek yang pernah gue ikuti.

Selain itu juga ada Pak Yayan yang baik hati selalu mengingatkan kami kalau diluar sana ajaran islam diluar sana sangat heterogen, beliau juga yang memperjuangkan kemudahan tahfiz agar kami semua wisuda seangkatan, sayang kami masih mengecewakan beliau karena kenyataannua kami belum bisa diwisuda seratus persen. Dan banyak ternyata guru-guru luar biasa lainnya disana, yang gak bisa aku sebutin satu-satu disini karena mager ngetik. Maklum kawan, aku dapat predikat termager di angkatan.

Yang keempat mengapa #AkubersyukursekolahdiAlKahfi adalah, aku punya seorang teman yang selalu bikin aku terpecut kalau aku mengingatnya. Aku selalu semangat belajar kalau aku mengingat kondisinya, selalu semangat menghafal tahfiz kalau ingat semangatnya ingin kembali berjuang bersama kami. Dia seorang sahabat yang sering dilupakan oleh teman-temanku, yang aku bangga padanya karena akhirnya kemarin dia maju kepanggung wisuda bersama kami. Waktu itu dia sempat terkapar dirumah sakit beberapa bulan dan fix banget bikin aku sama yasmin sebagai teman dekatnya nangis terus kalau setiap denger kabar buruk tentang dirinya. Tapi Alhamdulillah kawan, darinya aku sadar kalau ternyata kekuatan do'a itu luar biasa. Aku, dia dan Yasmin bisa kembali tertawa bersama dalam jangka waktu tidak terlalu lama. Dan akhirnya kemarin kamu bisa melaksanakan ujian nasional bersama. Namanya Sarah, dia gadis terkuat yang pernah aku temui.

Yang kelima, yang terakhir. #AkubersyukursekolahdiAlKahfi karena aku menemukan keluarga disana. Keluarga kecil yang aku sendiri lupa bagaimana terbentuknya, haha. Keluarga kecil yang bisa bikin aku merasakan punya kakak, diusilin sama Vety sebagai sulung yang kalo bangunin aku kalau tidur gak nyante banget, terus dia suka ngelitikin kalo nggak ada kerjaan, dan satulagi, suka curhatin hasan kalau lagi galau banget. Berbanding terbalik dengan Yasmin sebagai kakak tengah yang suka banget aku ajak curhat tentang masalah hati yang tak kunjung habis ini, haha. Di keluarga alay ini Aku punya kakak ipar juga, namanya Hasan, dia suka aku curhatin masalah cita-cita, dan dunia seputar kampus. Lantas Mama sama Papahnya? Haha.. gak bakal aku tinggalkan, Mamski Haifa' suka nyuapin aku makan, sama bobo siang sama aku kalau lagi nggak ada sekolah siang. Kalau Papski Arib sukanya ceramah, dia sering banget mengeluarkan nasehat-nasehat  layaknya Mario Teguh, padahal aku yakin banget kok dalam kesehariannya pasti dia rumit juga. Haha, maafkan aku ya kawan jika aku suka berlebihan. Mungkin mereka menganggapku seorang anak perempuan yang rese dan suka curhat gajelas, cerewet dan apalah itu sebagainya. Tapi buat aku mereka tempat berbagi, penyemangat, penasihat, penghibur, dan Ah! Aku sayang sama mereka.
From left to the right; Hasan, Yasmin, Aku, Arib, Haifa. Kurang Vety.

Ah! Aku lelah, mungkin itu beberapa alasan mengapa #AkubersyukursekolahdiAlKahfi. Satu kata yang aku bisa haturkan sekarang, Terimakasih yaAllah 😂😂

Thursday, April 23, 2015

#DiAlKahfiAneBelajar

3 tahun di Al Kahfi, gak mungkin kami sia-siakan, gue iseng ngiterin binder ke temen-temen dan menyuruh mereka menulis dengan hastag #DiAlKahfiAneBelajar, nih liat deh hasilnya! 

      1.   #DiAlKahfiAneBelajar Bahwa barang yang masuk ke kamar adalah milik bersama.
      2.   #DiAlKahfiAneBelajar untuk TEGAR
      3.   #DiAlKahfiAneBelajar kalau teman diatas segalanya
      4.   #DiAlKahfiAneBelajar It’s called  truth, easy to lose but too hard to get
      5.   #DiAlKahfiAneBelajar jadi pribadi tangguh dan tahan akan segala peraturan baru.
      6.   #DiAlKahfiAneBelajar Mengikhlaskan kepergian mereka yang kelak akan kami temui di akhirat nanti. #Niceboyshaveaniceplace
      7.   #DiAlKahfiAneBelajar TEGAS dan Teguh pendirian
      8.   #DiAlKahfiAneBelajar mengikhlaskan perasaan… #ehsalahfokus
      9.   #DiAlKahfiAneBelajar kalau mestinya cinta itu sama Allah, bukan sama Ikhwan.
   10.   #DiAlKahfiAneBelajar mengurus suatu organisasi dari awal masuk hingga mau lulus
   11.   #DiAlKahfiAneBelajar ternyata bahagia itu sederhana banget
   12.   #DiAlKahfiAneBelajar menjadi pendengar yang baik itu ternyata asyik
   13.   #DiAlKahfiAneBelajar Calm, and keep holding on #OSPETA13/14
   14.   #DiAlKahfiAneBelajar kalau pimpinan sama adik kelas adalah hanya sebagian kecil dari ujian yang ada
   15.   #DiAlKahfiAneBelajar mencintai mahakarya pemuda, ukirkan dalam cakrawala
   16.   #DiAlKahfiAneBelajar tidak menilai orang dari luar
   17.   #DiAlKahfiAneBelajar bertanggung jawab atas amanah yang diberikan
   18.   #DiAlKahfiAneBelajar selalu bersabar disetiap langkah terutama langkah menuju waserda (warung serba ada)
   19.   #DiAlKahfiAneBelajar terkadang emang faking smiles itu perlu
   20.   #DiAlKahfiAneBelajar ikhlas ikhlas ikhlas
   21.   #DiAlKahfiAneBelajar berpura-pura hingga kita lupa kalau ternyata kita sedang berpura-pura
   22.   #DiAlKahfiAneBelajar memahami orang lain
   23.   #DiAlKahfiAneBelajar untuk respek dan peka.
   24.   #DiAlKahfiAneBelajar mencintai seseorang karena Allah, melepas seseorang karena Allah, dan melakukan segala sesuatu karena Allah
   25.   #DiAlKahfiAneBelajar jadi orang asyiq
   26.   #DiAlKahfiAneBelajar mengambil hikmah dari setiap kejadian
   27.   #DiAlKahfiAneBelajar ukhuwah sesama penting sekali, kawan!
   28.   #DiAlKahfiAneBelajar bahwa teman=keluarga=bahagia
   29.   #DiAlKahfiAneBelajar menabung
   30.   #DiAlKahfiAneBelajar membesarkan badan
   31.   #DiAlKahfiAneBelajar menggantungkan cerita cinta eh salah cita-cita maksudnya
   32.   #DiAlKahfiAneBelajar kalau semuanya dari, milik, dan akan kembali pada Allah.
   33.   #DiAlKahfiAneBelajar bersatu dengan alam
   34.   #DiAlKahfiAneBelajar percaya satu sama lain
   35.   #DiAlKahfiAneBelajar berfikir dan bersikap biasa
   36.   #DiAlKahfiAneBelajar menjaga perasaan
   37.   #DiAlKahfiAneBelajar mengontrol emosi
   38.   #DiAlKahfiAneBelajar memahami teman
   39.   #DiAlKahfiAneBelajar nggak ada yang namanya itung-itungan sama temen
   40.   #DiAlKahfiAneBelajar untuk tidak menjadi orang bermuka dua, karena itu menyakitkan
   41.   #DiAlKahfiAneBelajar mensyukuri nikmat Allah
   42.   #DiAlKahfiAneBelajar mandiri, santun, dan berahlak mulia à ikrar
   43.   #DiAlKahfiAneBelajar kalo ternyata curhat sama Allah itu the best of the best way
   44.   #DiAlKahfiAneBelajar memperjuangkan atas hak untuk mendapat ayam yang besar haha
   45.   #DiAlKahfiAneBelajar menyimpan cinta dengan rapih *hatchiiiiw bersin ceritanya
   46.   #DiAlKahfiAneBelajar menyelak kamar mandi di pagi hari
   47.   #DiAlKahfiAneBelajar mencintainya karenaNya
   48.   #DiAlKahfiAneBelajar memahami bahwa Allah paling adil!
   49.   #DiAlKahfiAneBelajar mengagumimu dari jauh
   50.   #DiAlKahfiAneBelajar membohongi kucing
   51.   #DiAlKahfiAneBelajar menirukan suara walas
   52.   #DiAlKahfiAneBelajar menjadi drama queen
   53.   #DiAlKahfiAneBelajar “Tak apalah diri ini sakit, yang penting yg lain bahagia”
   54.   #DiAlKahfiAneBelajar ternyata takdir Allah itu rapih banget ya..
   55.   #DiAlKahfiAneBelajar bahwa manusia itu buta, sedang Allah tau segalanya
   56.   #DiAlKahfiAneBelajar ternyata sodaqoh emang penolong bgt
   57.   #DiAlKahfiAneBelajar hidup susah, jadi jangan buat hidup tambah susah
   58.   #DiAlKahfiAneBelajar tersenyum dalam kondisi apapun
   59.   #DiAlKahfiAneBelajar makan dan minum disemua wadah
   60.   #DiAlKahfiAneBelajar mengungkap rahasia Allah
   61.   #DiAlKahfiAneBelajar meluruskan niat
   62.   #DiAlKahfiAneBelajar syukur-syukur-syukurin
   63.   #DiAlKahfiAneBelajar sinting dan menyintingkan orang sesinting sintingnya
   64.   #DiAlKahfiAneBelajar potong rambut dengan alas kerudung
   65.   #DiAlKahfiAneBelajar mengikhlaskan sesuatu, apapun bentuknya, untuk siapapun itu.
   66.   #DiAlKahfiAneBelajar memilih satu pilihan biarpun itu rumit
   67.   #DiAlKahfiAneBelajar menghargai orang lain
   68.   #DiAlKahfiAneBelajar melawan ego demi kepentingan bersama
   69.   #DiAlKahfiAneBelajar “Allah, Buku, Pesta, Cinta” Beribadah, meminta dan mohon lah ampun    pada Allah, dengan buku kita belajar ilmu Allah, Agar senang kita sedikit berpesta, dan dengan  cinta hidup kita berwarna.
   70.   #DiAlKahfiAneBelajar makan mie kayak akan batagor #PSN2014
   71.   #DiAlKahfiAneBelajar harus respek kalo mau direspekin
   72.   #DiAlKahfiAneBelajar mengaduk susu dengan garpu
   73.   #DiAlKahfiAneBelajar manusia akan hidup ideal dengan punya harapan, berfikir dan berusaha untuk menggapainya di jalan yang benar dengan niat yang lurus
   74.   #DiAlKahfiAneBelajar mencintai fisika
   75.   #DiAlKahfiAneBelajar siap dengan segala bentuk ujian yang bersifat selalu dadakan.
   76.   #DiAlKahfiAneBelajar dari sebuah kegagalan, never give up!
   77.   #DiAlKahfiAneBelajar jujur dalam hal apapun! Terutama saat ujian!
   78.   #DiAlKahfiAneBelajar terbuka sama teman
   79.   #DiAlKahfiAneBelajar Fisika sama 3 guru yang berbeda-beda.
   80.   #DiAlKahfiAneBelajar biologi sama 2 bu guru yang cantik-cantik dan strong bgt!
   81.   #DiAlKahfiAneBelajar hidup seadanya yang penting bahagia
   82.   #DiAlKahfiAneBelajar mencari Ridho Allah, Ridho orang tua
   83.   #DiAlKahfiAneBelajar menyayangi dan memahami sesama
   84.   #DiAlKahfiAneBelajar mengakulturasikan apapun
   85.   #DiAlKahfiAneBelajar berbagi sama kucing
   86.   #DiAlKahfiAneBelajar menerima segala sesuatu dengan legowo
   87.   #DiAlKahfiAneBelajar melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda
   88.   #DiAlKahfiAneBelajar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, terutama waktu tidur siang.
   89.   #DiAlKahfiAneBelajar “tak apa lelah, asal lillah!”

   90.   #DiAlKahfiAneBelajar agar bisa menjadi anak hebat kaliaaaaannn :3

Saturday, April 18, 2015

Kota Tua 18 April 2015

HALO KAWAN!
Sudah berapa lama gue gak ngepost? Ah sudahlah tidak usah dihitung. Langsung aja ya kawan. Jadi ceritanya gue abis menempuh perang besar yang menentukan hidup gue kedepannya, 3 hari untuk 3 tahun yang gue jalanin dengan susah payah yaitu, UJIAN NASIONAL! Sekarang gimana? Udah selesai alhamdulillah :) Nah, seperti biasanya abis UN pasti libur kan? Nah liburan ini main ke rumah anak kamar gue yang bayi bangeeeeetttt, dia adalaaaaahh SYIFABENI!

Dari sebelum UN kita bikin plan gitu deh mau jalan-jalan ke kota tua. Sebenernya gue tau disana gak ada apa-apa, tapi yaah... coba lah mungkin kalo sama temen mungkin seru hehe, akhirnya kemarin tanggal 18 april kita caw kesana :)

Pagi-pagi, bangun kita langsung caw lari pagi dulu, biar kurus pas wisuda ceritanya, tapi tetep aja udahannya makan nasi kuning banyak juga hahaha.


Pas lari pagi itu, kita kita ketemu mbok-mbok jamu, terus kita berhenti dulu beli jamu, dan gak berubah selalu minum beras kencur dari kecil, hahaha. 

Setelah mandi dan siap siap, kita berangkat yeeeey!
Naik kereta dari bojong gede ke kota, sempet hujan, dan entah kenapa yang paling menyebalkan dari perjalanan ini adalah MUSHOLLA! heran sama pemerintah indonesia! udah tau jadi negara yang muslimnya terbanyak, tapi nyediain musholla besar di setiap stasiun kok susah banget ya? ah sudahlah, percuma aku marah-marah disini tak didengar juga sama petinggi-petinggi negeri ini.

Sampe di kotu, kita cuma foto-foto disana karena emang disana cuma bisa foto-foto, karna kalo koprol disana ntar diliatin kan malu.


Pas kita mau balik tiba-tiba lapangannya rame banget, ternyata disana ada pertunjukan kuda lumping gitu. Gue sama koyun penasaran, kita nyempil-nyempil lah tuh diantara orang-orang, eh pas banget gue duduk pas banget orangnya lagi dirasukin gitu.. terus, dicambuk-cambuk gitu, gua ama sipa langsung mundur-mundur. Selama nonton itu gua gabisa berhenti dzikir aja dah.

Setengah 5 kita caw stasiun lagi, balik ke bogor lagi yeyeye... Hujan deraaaassss banget2an, akhirnya kita sampe rumah syipa abis maghrib, dijemput sama papahnya. Lelah kawan, sungguh hari yg melelahkan.

Wednesday, December 24, 2014

Anak Hebat




Hai! berdebu kali ini blog.. hahaha, sebenernya banyak yg mau di ceritain, tapi...
1. mager ngetik
2. posisi gak enak bgt
3. karena terlalu banyak yg mau ditulis jadi bingung yg mana dulu
Jadi gua post lagu ini aja ya. Lagu baru SOINTFEST yang SANTRI BANGET BROOOOH! dengarkan lah! Semoga lagu ini bisa jadi do'a buat kita seangkatan, banggain orang tua, jadi anak hebat, berdiri dipanggung wisuda dengan segudang prestasi AMIN!


Saturday, September 13, 2014

Aku yang Tidak Ingin Menjadi Dewasa

“Dasar sialan, bukan manusia, setan kamu setan!”
Aku terbangun kaget dari mimpi buruk yang menghampiri tidurku yang bisa dibilang kurang dari kebutuhan tidur manusia pada umumnya. Sakit. Kepalaku sakit saat mulai mengingatnya. Andai saja mantra obliviette yang biasa digunakan Harry Potter dan kawan-kawannya untuk menghapus memori dapat kugunakan didunia nyata ini, mungkin ingatanku terhadap masalah ini dapat terlupakan.
Aku memalingkan wajahku keluar jendela, kulihat mentari mulai keluar dari tempat persembunyiannya, dan aku kembali larut dalam lamunan. Ingatan akan peristiwa itu kembali. Peristiwa kemarin yyang menimpa keluarga kecilku yang terdiri dari Ayah, Ibu dan aku. Tetes air mata mulai berjatuhan seiring otak ku mengingat peristiwa itu.
***
Siang itu, aku layaknya remaja tujuh belas tahun lainnya sibuk dengan gadget bewarna putih yang besarnya segenggaman tanganku. Seperti yang biasa dilakukan oleh kebanyakan remaja lainnya, aku bercengkrama dengan teman-temanku di dunia maya, tiba-tiba Ibu datang kepadaku dan menyuruhku menggantikannya didapur untuk menunggui masakannya. Ibu bilang Ia harus menelepon temannya, maka aku berikan gadget putih kecilku itu kepada Ibu, karena memang hari itu dari tiga gadget yang ada dirumah hanya punyaku yang memiliku pulsa, dan aku beranjak kedapur.
Aku sibuk mengaduk masakan Ibu, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, Ayah datang! Batinku. Akupun berlari membukakan pintu untuk Ayah. Kulihat wajah Ayah, tersenyum padanya, dan mencium tangannya. Namun saat aku melakukan kebiasaanku itu aku merasa janggal, karena Ayah tidak membalas senyumanku. Entahlah mungkin beliau sedang lelah dan aku enggan mengganggunya karena takut memperburuk suasana. Aku kembali ke masakan Ibu yang dititipkannya kepadaku.
***
“Nemita, kemari kamu!” Ibu memanggilku dengan nada tinggi yang membuatku langsung digap menghadap wanita yang telah mengandungku selama sembilan bulan itu. Mukanya telah berubah menjadi tidak enak, bisa jadi ini suatu pertanda bahwa aku akan dimarahi. Benar saja baru aku selesai bergumam dalam hati, Ibu mulai mengeluarkan kekecewaannya padaku.
“Siapa yang mengajarimu menggunakan kata-kata kasar?” Ibu memulai interogasinya, aku hanya bisa diam. Mulutku bungkam. Aku mengetahui penyebab Ibu marah. Pasti karena Ibu telah melihat obrolanku dan teman-temanku di media sosial, dan ya memang benar aku sempat berkata-kata kasar kepada temanku.
“Jawab Ibu Nemi! Dari mana kau dapat kata-kata kasar seperti itu?” Ibu melanjutkan kekecewaannya padaku dan aku tertunduk, dan aku masih saja diam.
“Kamu tahu Nemi? Orang yang berkata-kata kasar itu seperti orang yang tidak bersekolah. Itu tidak sopan Nemi, coba kau pikirkan jika temanmu terluka hanya karena perkataanmu tadi?” Kepalaku yang tadinya tertunduk sekarang rasanya sudah terpendam didalam tanah. Aku merasa bersalah sekaligus malu pada ibu.
“Ibu tidak suka kamu seperti itu, dan ibu tidak ingin melihatmu berkata-kata seperti itu lagi.” Ibu mengakhiri kekecawaannya, dan sekali lagi aku terdiam dan hanya mengangguk. Hatiku bergumam, “Maaf ibu.. Maaf.. Lagi-lagi aku mengecewakanmu.” Aku berjuang menahan air mataku yang memaksa keluar. Kemudian Aku mulai melangkahkan kakiku dari ruang tamu menuju kamarku, menuju laptop kesayanganku, menyalakannya dan memberi perintah untuk memutar lagu Yui- To Mother.
Hatiku mulai tenang setelah mendengar beberapa lagu dari laptopku. Namun aku mendengar sayup-sayup suara orang bertengkar dari kamar orang tuaku. Aku yang penasaran keluar dari kamar dan bergegas turun dari lantai dua menuju kamar orang tuaku di bawah. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara saat sudah tiba dibawah. Walaupun pintu kamar Ayah dan Ibu tidak tertutup, tetapi aku berani menjamin kalau mereka tidak menyadari kehadiranku disini. Aku tidak langsung masuk kedalam kamar, aku mengintip dari balik dinding terlebih dahulu dan menyaksikan, dan mendengar sebuah adegan yang benar-benar membuat tanggul pertahanan air mataku jebol, sehingga air mataku dengan derasnya keluar membanjiri pipiku layaknya air terjun.
Aku tidak berani menampakan diriku, hingga aku melihat Ayah melempar sesuatu dari atas meja, bukan kearah Ibuku tentunya, hanya membantingnya kelantai, dan syukurnya hanya sebuah kotak tisu. Aku sudah tidak tahan menangis tanpa suara, akhirnya aku menampakan diriku dan menangis sejadi-jadinya. Ayah masih saja melontarkan kata-kata kasar pada Ibu, dan Aku berani menjamin Ibuku sangat terluka oleh kata-kata itu.
Namun, tahukah dirimu teman apa yang ternyata Ibu lakukan? Ibu justru beranjak ketempatku mematung sambil menangis dan memeluk ku, Ia lebih memilih menenangkan diriku dan meninggalkan Ayah yang masih mengatur nafasnya setelah berteriak-teriak. Aku segera melepas pelukan Ibu dan berlari menuju kamarku di atas. Aku mengunci diriku dan duduk diantara rak-rak buku yang berisi novel-novel tebal yang menyaksikanku menangis meraung-raung marah, entah marah pada siapa, yang jelas hatiku sakit.
Aku sakit hati pada orang dewasa, dan aku tidak habis pikir pada mereka. Semudah itukah mereka mengeluarkan kata-kata kasar ketika sedang emosi? Semudah itukah mereka menyakiti orang lain? Sedang disisi lain mereka melarang anak-anak mereka mengeluarkan kata-kata seperti itu. Pahamkah mereka akan makna Kaburo maktan? Sungguh aku tidak mengerti pola pikir mereka.
Hingga sekarang pukul sebelas malam, air mataku belum berhenti sempurna. Sebenarnya sejak tadi siang aku mendengar puluhan kali Ibu dan Ayah mengetuk pintu kamarku, tetapi aku abaikan mereka. Namun, akhirnya aku luluh sekarang. Aku mendengar ibu mengetuk pintu kamarku sekali lagi, aku membentuk tanggul air mataku sehingga air mataku bisa dihentikan untuk sementara waktu. Aku membuka pintu kamarku, keluar dan langsung memeluk ibu, tetapi nampaknya tanggul pertahanan air mataku jebol lagi ketika dipeluk ibu. Ibu menenangkakanku kembali entah untuk keberapa kalinya dan mengajakku makan malam di meja makan. Aku sempat melirik ke kamar ayah. Beliau melihat kearahku juga sambil tersenyum, tetap[I maaf ayah, aku tidak bisa membalas senyummu malam ini, karena hatiku masih terlalu sakit karena mendengar perkataamu tadi siang. Namun aku tahu, pasti hati ibu lebih sakit.
Setelah selesai makaan dan mencuci piringnya, ibu menawari segelas susu, tetapi aku menolaknya. Aku lebih memilih kembali ke kamar mengurung diri disana.
Aku membenamkan kepalaku di bawah bantal, pikiranku kembali berkecamuk. Aku berpikir, seharusnya aku tidak boleh menyalahkan ayah sepenuhnya, karena mungkin kondisi ayah yang sudah lelah setelah bekerja keras seharian. Di samping itu, aku tahu yang memulai pertengkaran pasti ibu. Karena jika ayah ya ng memulainya tidak akan seheboh ini. Namun, aku tidak suka cara ayah berkata kasar pada ibu, sedangkan kedua orangtuaku tidak mau diriku berkata kasar.
Lelah, pikiranku lelah. Mataku mulai panas karena terlalu sering dilewati oleh air mata. Perlahan mataku terpejam. Hatiku bergumam untuk yang terakhir kalinya malam ini. Sungguh kalau menjadi orang dewasa kita lebih mudah menyakiti orang lain, bahkan menyakiti orang yang disayangi, rasanya aku benar-benar tidak ingin menjadi orang dewasa. Karena aku hanya tidak ingin menyakiti dan mengecawakan orang yang aku sayangi.


Saturday, August 9, 2014

I smiled, I cried, I laughed at the same time :'')

You don't say that i'm crazy, or another something bad, i did those thing because of this: